Minggu, 23 Desember 2012

Kedua Orangtua Nabi SAW Pasti di Surga!



Seorang mukmin tak akan mengingkari bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir, nabi yang memiliki kemuliaan dan derajat yang tertinggi, baik di langit maupun di bumi. Kemuliaannya dinyatakan oleh Allah SWT dengan firman-Nya yang artinya, "Dan sesungguhnya Engkau (ya Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung." (QS Al-Qalam: 4).
Jika yang kecil menyifati sesuatu dengan "agung", yang dewasa belum tentu menganggapnya agung. Tetapi jika Allah, Yang Mahabesar menyifati sesuatu dengan kata "agung", tidak dapat terbayangkan betapa besar kekuatan. Dan sudah tentu, makhluk yang agung tidak mungkin keluar kecuali dari rahim yang agung pula.
Kemuliaan Nabi Muhammad SAW mencakup segala hal, termasuk nasabnya (keturunannya). Beliaulah manusia yang paling baik nasabnya secara mutlak. Nasab beliau berada di puncak kemuliaan. Musuh-musuh beliau pun memberi pengakuan atas hal tersebut.
Nabi SAW pernah menjelaskan bahwa nasabnya (keturunannya), yakni ayah, kakek, dan seterusnya, adalah orang-orang suci dan orang-orang pilihan. Dalam sebuah riwayat At-Tirmidzi dari Abbas bin Abdul Muthalib, beliau mengatakan, "Aku Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk, maka Dia telah menjadikan aku dalam sebaik-baik bagian mereka, kemudian Dia menjadikan mereka dua bagian, maka Dia menjadikan aku dalam sebaik-baik bagian mereka, kemudian Dia menjadikan mereka beberapa kabilah, maka Dia menjadikan aku dalam sebaik- baik kabilah mereka; kemudian menjadikan mereka beberapa keluarga, maka Dia menjadikan aku dalam sebaik-baik keluarga dan sebaik-baik diri di antara mereka. "
Dalam hadits lain beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah telah memilih Ismail dari (antara) anak Ibrahim, dan Dia telah memilih keturunan Kinanah dari keturunan Ismail, dan Dia telah memilih Quraisy dari keturunan Kinanah, dan Dia telah memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy, dan Dia telah memilih aku dari Bani Hasyim. "
Dari hadits-hadits di atas jelaslah, beliau adalah keturunan orang-orang pilihan, dan beliau adalah keturunan Nabi Ismail, putra Ibrahim.
Ayah Nabi SAW, yang bernama Abdullah bin Abdul Muthalib, wafat tatkala Nabi SAW berada dalam kandungan ibundanya. Sedangkan ibunda Nabi SAW, Aminah Az-Zuhriyah, wafat tatkala Nabi SAW berusia 6 tahun.
Ayah-bunda Nabi termasuk penduduk Makkah yang tergolong ahlul fatrah, maksudnya orang-orang yang hidup di Makkah pada zaman sebelum diutusnya seorang utusan Allah. Dalam kaitan dengan mereka, adalah sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW. Karena itu, tidak ada ancaman siksa sedikit pun untuk kaum yang belum masuk Islam saat itu, karena ajaran Islam memang belum diturunkan oleh Allah kepada umat manusia.
Selain termasuk ahlul fatrah, mereka bukan termasuk para penyembah berhala, orang-orang yang suka berjudi, minum minuman keras, berzina, dan perbuatan hina lainnya. Mereka berdua hidup sebagai masyarakat yang terhormat dan berperangai baik, apalagi orangtua mereka, Abdul Muthalib, adalah pembesar utama kota Makkah yang bertugas menjaga kemashlahatan Ka'bah dan suku Quraisy.
Ayah-bunda Rasulullah SAW adalah orang-orang yang selamat dan tidak terpengaruh oleh keyakinan Jahiliyyah, meskipun keduanya orang-orang yang hidup dalam masa fatrah. Demikian juga moyang beliau sampai Nabi Adam AS, tidak seorang pun dari mereka yang tergolong kafir dan musyrik. Sebagaimana ditegaskan dalam kitab Fathul 'allam bi Syarhi Mursyidil Anam, karya Sayyid Muhammad Abdullah Al-Jurdani, bahwa Rasulullah bersabda, "Aku selalu berpindah dari iga-iga yang suci dan rahim-rahim yang bersih."
Rasulullah adalah semulia-mulia makhluk. Beliau selalu berada dalam kemuliaan di sisi Allah SWT, sedangkan kemuliaan dan kekufuran jelas tidak mungkin berkumpul.
Di dalam kitab tersebut juga disebutkan sebuah hadits dari 'Urwah dari Aisyah RA yang menegaskan bahwa ayah dan bunda Rasulullah SAW diaktifkan kembali oleh Allah, lalu keduanya beriman kepada ajaran Rasulullah SAW, kemudian keduanya dimatikan kembali oleh Allah SWT.
Dengan keterangan-keterangan di atas dan berbagai keterangan lainnya, kaum muslimin meyakini bahwa ayah bunda Nabi adalah orang-orang suci, orang-orang pilihan, orang-orang yang diselamatkan dari kemusyrikan dan kekufuran serta perilaku-perilaku buruk kaum Jahiliyah. Sehingga, tempat mereka kelak adalah di dalam surga. Itulah keyakinan kita berdasarkan dalil-dalil dan bukti-bukti yang kuat yang kita dapatkan dari para ulama terpercaya.

Nasihat Sayyidina Umar tentang Budaya Meniru



Madinah merupakan jantung peradaban Islam ketika itu. Umat Islam relatif masih mempertahankan gaya hidup sederhana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Namun jauh di luar kota Madinah, keadaannya sedikit berbeda. Banyak kota-kota yang telah mengenal kebudayaan imperium Romawi atau Persia memiliki kebiasaan menempatkan para pemimpin mereka di gedung-gedung megah, berpakaian mewah serta kebiasaan-kebiasaan aristokrat lainnya.

Sebagai khalifah Umar merasa khawatir para penguasa akan terjangkiti penyakit individualistik (tak perduli terhadap kondisi umat), materialistik (menumpuk kekayaan pribadi) dan hedonisitik (memburu kesenangan sesaat) sebagaimana para penguasa Persia dan Romawi.

Ia khawatir kebudayaan asing yang negatif tersebut dapat menggerus nilai-nilai bersahaja agama Islam yang telah dibangun oleh Rasulullah. Untuk itu Umar merasa perlu untuk mengirimkan sepucuk surat kepada wali kota Azerbaijan, Uthbah bin Farqad.

Dalam hikayat Abu Utsman An Nahdi, Umar pernah mengirim surat kepada Uthbah, sang walikota Azerbaijan. Surat tersebut berisi peringatan Umar yang berbunyi

”Wahai Utbah bin Farqad! Jabatan itu bukan hasil jerih payahmu dan bukan pula jerih payah ayah dan ibumu. Karena itu kenyangkanlah kaum muslimin di negeri mereka dengan apa yang mengenyangkan di rumahmu, hindari bermewah-mewah, hindari memakai pakaian ahli syirik dan hindarilah memakai sutera.”

Teguran Umar ini berdasarkan hadis Rasulullah, "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum berarti dia bagian dari kaum itu."

Demikianlah umar memaknai peniruan (tasyabuh) atas budaya yang negatif sebagai sesuatu yang berbahaya. Sikap meniru juga menunjukkan lemahnya kepribadian yang menciptakan generasi bunglon yang gampang terombang-ambing dan kerjanya cuma mengekor.

Sementara budaya mengekor ini dibahasakan oleh Rasulullah dalam hadis: “Kamu telah mengikuti sunnah orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu tetap mengikuti mereka.” (Anam)

Sabtu, 15 Desember 2012

SYEIKH ABDURRAHMAN SHIDDIQ AL-BANJARI




Ulama yang diriwayatkan ini adalah keturunan Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari bin Haji Muhammad Afif bin Haji Anang Mahmud bin Haji Jamaluddin bin Kiyai Dipa Santa Ahmad bin Fardi bin Jamaluddin bin Ahmad al-Banjari. Jalur keturunan yang menyentuh Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, ulama dunia Melayu yang sangat terkenal, ialah bahwa ibunya bernama Shafura binti Mufti Haji Muhammad Arsyad bin Mufti Haji Muhammad As’ad. Ibu Mufti Haji Muhammad As’ad bernama Syarifah binti Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, yaitu daripada perkahwinan Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dengan Tuan Bajut.

Dari jalur yang lain pula bahwa ibu Muhammad Afif bernama Sari binti Khalifah Haji Zainuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, iaitu daripada perkahwinan Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dengan Tuan Guat. Berdasarkan catatannya sendiri yang penulis peroleh daripada keturunan beliau di Sapat dan Tembilahan, Indragiri Hilir (1982) bahawa Haji Abdur Rahman Shiddiq lahir bulan Rabiulakhir, malam Khamis, sebelum Subuh, 1284 Hijrah/Agustus 1867 Masehi.   Penulis tidak sependapat dengan beberapa orang penulis yang menyebut bahwa Tuan Surgi Haji Abdur Rahman Shiddiq lahir pada tahun 1857 Masihi. Mengenainya barangkali satu kekeliruan menyesuaikan tahun 1284 Hijrah atau 1288 Hijrah ke tahun Masehi saja. Bahwa 1284 Hijrah bukan bersamaan dengan tahun 1857 Masihi tetapi yang betul ialah tahun 1867 Masihi. Catatan tambahan yang dilakukan oleh anaknya bahwa beliau wafat pada hari Senin, jam 5.40, 4 Sya’ban 1358 Hijrah/18 September 1939 Masihi, dalam usia 70 tahun.


PENDIDIKAN

Pendidikan dasarnya beliau diperoleh dari lingkungan keluarga Ulama Banjar yang ada hubungan dengan beliau. Baik kepada kedua-dua orang tuanya, maupun Abdur Rahman Shiddiq sendiri berhasrat untuk memperoleh ilmu yang banyak di Tanah Suci Mekah, namun beliau menempuh jalan yang berliku-liku. Tuan Haji Abdur Rahman Shiddiq banyak memperoleh ilmu di alam terbuka, bumi dipijak, langit dijunjung di beberapa tempat yang dirantaunya. Mulai Banjar berlayar ke Jawa, ke Sumatera, sambil berlayar, di rantau orang mengajar dan berusaha untuk memperoleh biaya untuk sampai ke Tanah Suci Mekah.

Perjuangannya adalah suci untuk memperoleh ilmu memartabatkan Islam, semangatnya adalah teguh kukuh tidak akan terabai dan tergugahkan. Sempat belajar dengan beberapa orang ulama di Padang, sambil berdagang emas dan perak di Padang. Beliau juga merantau ke daerah Tapanuli. Pernah mengajar kitab Sabilul Muhtadin, karangan Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, datuk neneknya di Barus dan Natal di daerah Tapanuli. Berdasarkan catatan Tuan Haji Abdur Rahman Shiddiq bahwa dalam musim haji tahun 1306 Hijrah yang bererti bersamaan dengan Julai 1889 Masehi barulah cita-cita Tuan Haji Abdur Rahman Shiddiq sampai ke Mekah, dan tinggal di sana hingga tahun 1312 Hijrah/1894 Masihi. Oleh sebab Haji Abdur Rahman Shiddiq sampai di Mekah pada tahun tersebut di atas dinyatakan oleh beliau sendiri, maka penulis tidak sependapat dengan kenyataan Imran Effendy Hs dalam buku Pemikiran Akhlak Syekh Abdurrahman Shiddiq al-Banjari, halaman 16, 18 dan 63 yang menyebut bahawa Haji Abdur Rahman Shiddiq berangkat ke Mekah pada 1882/3 Masihi.

Catatan tulisan tangan Haji Abdur Rahman Shiddiq penulis miliki sejak tahun 1982 di Sapat daripada salah seorang keturunan beliau. Dalam catatan itu jelas bahwa sejak dilahirkan, catatannya berada di Padang pada 10 Zulhijjah 1305 Hijrah/18 Agustus 1888 Masihi, bahwa beliau bernama Abdur Rahman Shiddiq. Oleh sebab catatannya ditulis jauh sebelum beliau berada di Mekah, maka penulis juga tidak sependapat dengan buku di atas (halaman 18) yang menyebut bahawa gelar `Shiddiq’ diberikan oleh gurunya, al-Syata (maksudnya Sayid Abu Bakri asy-Syatha) di Mekah.Sewaktu belajar di Mekah, beliau bersahabat dengan beberapa orang, di antara mereka ialah Tuan Husein Kedah al-Banjari, keturunan Banjar yang dilahirkan di Kedah ini (lahir 1280 Hijrah/1863 Masihi) usianya lebih tua beberapa tahun daripada Haji Abdur Rahman (lahir 1288 Hijrah/1871 Masihi).

Selasa, 04 Desember 2012

Pengumuman Ujian Semester Pertama Tahun Pelajaran 2012 / 2013


Nomor   :  001    -USM/SU/W.U./12/2012                                                                                                     19 Muharram 1434 H.
Lamp      : 2 (dua) lembar                                                                                                                                   03 Desember 2012 M
Perihal   : Pelaksanaan Ujian Semester Madrasah tahun pelajaran 2012/2013

Kepada Yth. :
Para Santri Tingkat Diniyah Wustho & Tingkat Diniyah 'Ulya
Di -    T e m p a t

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Untuk mengevaluasi hasil belajar santri selama satu semester pelajaran tahun pelajaran 2012/2013, maka madrasah memandang perlu untuk melaksanakan evaluasi santri dalam bentuk Ujian Semester Madrasah (USM) dengan beberapa penjelasan sebagai berikut : 
       
    I.  PERSYARATAN CALON PESERTA & PELAKSANAAN UJIAN :
1.  Peserta terdaftar sebagai santri dengan dibuktikan adanya Buku SPP dan Nomor Induk Santri (NIS)
2.  Melunasi tunggakan Iuran SPP  selama satu semester pelajaran (Juli s/d. Desember 2012)
3.  Memenuhi kuota kehadiran santri minimal 50,01 % kehadiran selama satu semester pendidikan.
4.  Kegiatan pelaksanaan ujian dimaksud Insya Allah akan dimulai sejak Senin, 24 Desember 2012 sampai  dengan  Rabu, 02 Januari 2013 ( selama 9 hari ) Jadual ujian dan pengawas serta tata tertib terlampir.

   II.  BIAYA & TEMPAT PENDAFTARAN :                        
1.  Biaya pendaftaran persantri untuk Tingkat Diniyah Wustho & Tingkat Diniyah Ulya  sebesar Rp. 25.000,- (dua puluh lima ribu rupiah )
2.  Waktu pendaftaran sejak pengumuman ini dikeluarkan sampai hari Ahad, 23 Desember 2012.
3.  Tempat pendaftaran kepada masing-masing Guru Wali Kelas/Tingkat dari jam 08.00 s/d. 12.00. dikantor atau lokal belajar.
4.  Nomor peserta adalah Nomor Induk Santri (NIS) dan posisi lokal ditempat masing masing sebagaimana kegiataan belajar kecuali untuk kelas I Diniyah Ulya (santri puteri) ditempatkan di ruang aula.


  III.  FORMAT UJIAN / SOAL :
Format dan bentuk ujian, lisan atau  tulisan ketentuannya diserahkan kepada masing-masing Asatidzah pemegang mata pelajaran (Dars)

   IV.   LIBURAN PRA & pasca ujian semester  madrasah. :
Sebelum Ujian dilangsungkan kegiatan belajar libur Sabtu & Ahad, 22 & 23 Desember 2012. Dan setelah pelaksanaan Ujian Semester, liburan dimulai sejak hari Kamis, 03 s/d. Kamis, 10 Januari 2013. Turun kembali dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) kemadrasah pada hari Sabtu, 12 Januari 2013.

V.  hal – hal lain
Insya Allaj Buku Raport Santri  Insya Allah akan dibagikan pada waktu yang ditentukan kemudian. Karena itu kepada santri kelas II & III tingkat Diniyah Wustho dan Ulya yang belum menyerahkan Buku Raport, agar segera mengembalikan kepada Guru Wali Kelasnya masing-masing.

Demikian beberapa hal yang disampaikan berkenaan dengan pelaksanaan kegiatan Ujian Semester Madrasah tahun pelajaran 2012/2013.  Atas perhatian dan dilaksanakannya ketentuan ini sebelumnya diucapkan terimakasih.

Madrasah “Sullamul ‘Ulum” Dalampagar Ulu Martapura Timur
Kepala Tingkat Diniyah Wustho,                                             Kepala Tingkat Diniyah 'Ulya,

H. Abdul Halim ZA.                                                                      H.M. Mazani AR.

Tembusan disampaikan kepada Yth. :
1. Pengurus Yayasan Al - Arsyadiyah
2. Plh. Pimpinan Pondok Pesantren. “Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary”
3. Guru Wali Kelas masing-masing kelas / tingkat Wustho & Ulya