Selasa, 30 Juli 2013

Mengenang Al Maghfurlah Al Ustadz Al Mukarrom Guru H.M. Fadhil Zein



AL USTADZ Al Mukarrom H.M. Fadhil Zein bin Muhammad Zein bin H. Ismail Khotib bin H. Ibrahim bin H.M. Sholih bin Khalifah Zainuddin bin Maulana  Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary


Begitulah nama lengkap dan silsilah dari Al Ustadz Al Mukarram Guru H.H. Fadhil Zein. Beliau lahir pada 25 Februari 1941. Menempuh pendidikan di Madrasah Al Khairiyah di Surabaya Jawa Timur dan Menamatkan sekolah di Pendidikan Guru Agama Negri (PGAN)


Pengabdian diri beliau dalam dunia pendidikan ke-Islaman di Pondok pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary Madrasah Sullamul Ulum. Dapat dikatakan sepanjang kehidupan beliau.

Dari muda usia dini sudah mengajar di tingkat ibtidaiyah (sekarang diniyah awwaliyah) dan ketika pemerintahan pada waktu itu sekitar tahun 70 – 80 an melakukan pengangkatan guru guru madrasah untuk menjadi PNS.


Beliau termasuk yang terpilih dan lulus mengikuti pendidikan kedinasan. Hingga akhirnya dianggat menjadi PNS dan  bertugas di lingkungan madrasah Sullamul Ulum. Hingga beberapa lama beliau bertugas.


Sehubungan kepala tingkat Ibtidaiyah pada  waktu itu Al Ustadz Al Mukarrom Al Maghfurlah Guru Mohammad As’ad wafat . Maka atas kesepakatan dewan asatidzah beliau diberikan tugas untuk menggantikan sebagai kepala tingkat Ibtidaiyah di sekitar tahun 80 an


Dan semasa kepemimpinan beliau ini lah didirikan pendidikan TKA/TPA Sullamul Ulum karena pada waktu itu sistem pendidikan baca tulis methode iqro mulai diperkenalkan. Hingga sampai sekarang ini TKA / TPA Sullamul Ulum masih tetap berjalan. Dan diera beliau pula di adakan khataman massal tiap akhir  tahun pelajaran.


Dari perjanalan keadaan madrasah beliau selalu memberikan ide dan inovasi segar agar madrasah bisa ikut serta berperan dalam mendidik ruhani generasi muda muslim. Pada tahun 95 an Departemena Agama (Depag) kabupaten Banjar (sekarang kementerian Agama Kab. Banjar) memberikan usulan agar madrasah Sullamul Ulum sudah waktunya untuk ditingkatkan menjadi pondok pesantren.


Maka  untuk menindak lanjuti usulan itu  komponen madrasah mengadakan rapat yang dipimpin oleh Al Maghfurllah KHA. Kasyfuddin (beliau sebagai sesepuh pada waktu itu) di tetapkan lah Al Ustadz Al Mukarrom Guru HM. Fadhil Zein sebagai pimpinan.

Karena sudah menjadi “Ijma’” dan konsensus dewan asatidazh maka beliau dapat menerima tugas baru itu meski tetap  tugas sebagai kepala tingkat ibtidaiyah. Karena tugas  pimpinan hanya sebagai konsolidator dan monitoring masing masing tingkat.


Meski beliau ditetapkan sebagai pimpinan pondok pesantren. Namun karena ketawadhu’an beliau. Beliau  mengatakan kepada penulis “Aku kada cucuk jadi pimpinan kada cucuk di sorbani. Jadi aku hanya PLH aja alias Pelaksana Tugas Harian Pimpinan.


Setiap surat dinas keluar yang behubungan dengan tugas ke pondok pesantrenan  yang penulis ketik dan harus ditandatangaani oleh beliau. Selalu beliau berpesan harus ditullis Plh Pimpinan Ponpes baru nama beliau. Inilah salah satu rasa dan perasaan hati beliau  yang bersahaja dan merasa tidak memadai untuk di tulis dengan sebutan pimpinan apalagi ada embel embel KH alias Kyai Haji.


Setelah sekian lama beliau mengemban tugas itu. Penulis sering berkonsultasi dan diberikan spirit dan gagasan untuk terus memajukan madrasah yang dicintai. Beliau sosok yang sangat humanis dan terbuka untuk diberikan masukan bahkan dalam sesi rapat beliau memberikan waktu untuk dialog.

Namun biasanya para asatidzah dan kepala masing masing tingkat madrasah yang teerdiri dari TKA/TPA, Ibtidaiyah (sekarang Diniyah Awwaliyah) Tsanawiyah (Sekarang Diniyah Wustho) dan Aliyah (sekarang Diniyah Ulya) serta para Tata Usaha masing masing tingkat ada ras sungkan untuk bicara panjang lebar.


Dan beliau sangat tahu dan memahami kondisi seperti itu, penulis disuruh untuk membuat potongan kertas kertas kecil dan menyuruh penulis, untuk dibagikan kepada para peserta rapat agar menulis apa saja usulan yang akan disampaikan. Begitulah gaya kepemimpinan beliau yang selalu memperhatikan apa dan keinginan para asatidazah dan kepala tingkat madrasah serta para tata usaha.


Sangat banyak pengalaman berharga yang penulis dapat dari beliau khususnya dalam hal administrasi dan manajemen madrasah. Hingga pada suatu hari penulis bincang bincang dengan beliau. Beliau katakan, kalau kita masuk dan memimpin di sebuah madrasah yang sistem administrasi dan manajemennya sudah tertata baik Itu biasa saja tidak ada tantangan dan rintangan. Tapi kalau kita membenahi dari nol maka itulah tantangan yang sebenarnya dan ada rasa kepuasan batin tersendiri. Itulah diantara spirit yang beliau berikan.


Diantara ketegasan dalam sikap beliau. Beberapa Asatidzah pernah mengusulkan salah seorang anak laki laki beliau  untuk ikut membantu di bidang administrasi khususnya ditingkat Ibtidaiyah. Melihat kemampuannya maka beliau putuskan untuk menerima usulan itu. Namun beberapa  tahun sang anak mulai jarang masuk tugas kemadrasah karena sambil ikutan bisnis diluar. Hingga akhirnya beliau berhentikan langsung.


Setiap penulis sowan kerumah beliau karena urusan administrasi dan surat menyurat. Karena kediaman beliau jaraknya dengan gedung madrasah cuman sekitar 60 – 70 an meter saja. Hampir dapat dipastikan kita bicara tidak sebentar bahkan bisa sampai  3atau 4 jam duduk lesehan. Yang dibicarakan semuanya pasti urusan bagaimana cara untuk memajukan madrasah itu sendiri. Bahkan kalau bukan penulis yang minta permisi. Beliau sanggup saja melayani untuk berdiskusi.


Dan diantara karakter dan  sifat beliau itu adalah beliau dengan tulus memuji asatidzah atas kinerjanya yang diberikan yang sesuai harapan. Namun  beliau pun tidak segan untuk mengoreksi dan memberikan teguran bila itu tidak sesuai dengan harapan dan teguran yang lazim beliau lakukan dengan nota (tulisan) mungkin pertimbangan beliau agar memberikan pelajaran secara tidak langsung kalau secara lisan nanti itu bisa mempermalukan. 


Gaya dan methode beliau dalam memberikan pelajaran dan pemahaman pembelajaran sangat mempengaruhi dan memberikan inspirasi bagi penulis. Beliau kalau di kelas selalu mengajak para santri untuk terlibat dalam interaktif. Dan Beliau hafal nama satu persatu santri dikelas.

Dan trik beliau dalam mengajar bila ada santri yang berbicara ata tidak memperhatikan pelajaran yang beliau sampaikan. Beliau biarkan saja dan tidak beliau tegur saat itu. Namun diakhir pelajaran beliau akan menanyakan masalah pelajaran yang telah  disampaikan kepada santri yang bicara tadi.

Nah dengan demikian setiap santri tidak akan berani lagi bicara atau tidak memperhatikan karena takut akan ditanya seputar pelajaran. Dan ini sangat efektif hingga para santri akan tekun mendengarkannya.


Beliau dalam bertutur dengan sangat lembut dan agak lirih serta datar, selama penulis berinterkasi dengan beliau hampir 20 an tahun baik ketika masih belajar dulu maupun selama ikut membantu di bidang administrasi. Tidak pernah penulis dengar suara kasar dari beliau. Dalam bicara selalu diselingi dengan senyuman khas dari beliau.


Pada suatu hari ketika penulis duduk di ruang kantor madrasah. Tiba tiba beliau masuk keruangan asatidzah yang di hadiri penulis dan ada dua asatidzah lain. Beliau cerita bahwa beberapa hari lalu   kedatangan seorang Ustadz dari sebuah pesantren terkenal di kabupaten Banjar dan meminta untuk belajar Ilmu Falak. Memang diantara spesialisasi bidang study yang beliau pegang adalah Ilmu Falak.

Nah kedatangan tamu itu yang mau belajar padahal hampir sebayaan umur dengan beliau. Sang tamu sambil membawa kopi teh dan lain lain. Tamu  tersebut tetap memposisikan sebagai murid meski bukan untuk belajar dari nol lagi tapi hanya sebatas pendalaman.


Ekspresi  Guru Fadhil ketika memceritkan itu kepada penulis. Beliau sambil tersenyum ada sesuatu yang penulis tangkap bahwa beliau  kagum dan memuji ketulusan hati sang Guru yang datang dengan tawadhunya belajar kepada beliau sambil membawakan oleh oleh.


Setelah sekian Al Ustadz Al Mukarrom Guru HM. Fadhil Zein mencurahkan segala kemamuan dan kemauan untuk pendidikan keIslaman di madrasah yang dicintai. Dengan bidang study spesialisasi Ilmu Falak, Ilmu Tarbiyah dan Durusullughah al Arobiyah serta Sirah Nabawiyah. Beliau sudah mulai sakit sakitan dan sejak tahun 2001 an beliau tidak dapat lagi mengajar menuju gedung madrasah karena usia yang sepuh hingga para santri yang mendatangi ketempat kediaman beliau dengan jadual yang diatur sedemikian rupa agar tidak bertabrakan.


Dan beberapa kali beliau masuk rumah sakit karena faktor usia yang sepuh. Tetapi semangat dan dedikasi yang kuat dari beliau ingin tetap menyumbangkan keilmuan kepada para santri hingga akhir kehidupan.


Hingga pada Senin, 20 Ramadhan 1434 H / 29 Juli 2013 M. Pernafasan beliau terasa sesak dan diputuskan oleh keluarga untuk kembali di opname di RSU Ratu Zalekha Martapura. Namun hanya bertahan dalam hitungan kurang lebih dua jam. Sekitar pukul 01.30 Wita beliau menghembuskan nafas terakhir. Inna Lillahi Wa Inna Ilayhi Roji’un.


Beliau wafat dalam usia 72 tahun lebih beberapa bulan. Dengan meninggalkan seorang isteri dan enam  anak laki laki serta dua anak perempuan  dan  beberapa cucu. Selamat Jalan Guru...!!!

Semoga segala amal usaha dan karya kebaikan beliau serta perjuangan dalam pendidikan keIslaman yang beliau lakukan lebih dari dua pertiga kehidupan beliau senantiasa menjadi amal jariyah dan kontribusi pahala di Akhirat kelak. Amin Ya Robbal Alamin.


اَللَّهُمَّ أكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ كَمَا يُنَقَّ الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ قَبْرَهُ رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الجِنَانْ وَلاَ تَجْعَلْ قَبْرَهُ حَفْرَةً مِنْ حَفَرِ النِّيْرَانِ
اَللَّهُمَّ إِنْ كَانَ مُحْسِنَا فزدْ فِيْ إِحْسَانِهِ وَاِنْ كَانَ مُسِيْئَاَ فَتَجَاوَزْ عَنْ سَيِّئَاتِهِ


*) Oleh : Ali Sadikin Chalidy


Tidak ada komentar:

Posting Komentar